Korupsi?

Kira-kira semboyan para assasin dari game buatan Ubisoft ini merupakan gambaran yang cocok tentang hukum indonesia yang jangan ditanya lagi unsur paradoksnya. Apalagi soal korupsi.

Dari anak TK, sampe DIKTI akan selalu ditemukan kegiatan korupsi. Maklum, walaupun sedang gencarnya mengenai pendidikan karakter, departemen pendidikan merupakan departemen no. 3 terkorup se-indonesia, jadi wajar kalo dari siswa SD sampe guru besar, kegiatan menyontek merupakan hal lumrah. Paradoks utama negri ini.

Tapi apa sih sebenarnya korupsi itu? Karena saya bukan orang jujur (alias suka menyontek juga) saya ingin berbagi sepenggal tulisan yang saya dapat dari berbagai sumber  mengenai definisi, ciri, dan dampak dari kegiatan korupsi. Silahkan jika ingin copas untuk tugas makalah ato presentasi, toh saya juga dapet nyontek :P.

Download disini.

Kekuatan dan Kerentanan

“Kekuatan, apakah memang segalanya? Kata om ariel (bukan angga) tak ada yang abadi, demikian juga kekuatan. Tapi kapan kekuatan itu akan sirna? Salah satu penyebab yang paling ironis adalah ketika kekuatan itu menjadi boomerang bagi yang memilikinya. Contoh nyatanya adalah kekuatan militer as yang menjadi boomerang baginya ketika negara-negara Eropa enggan melibatkan AS dalam negosiasi dengan Iran, sehingga as seakan-akan bekerja sendiri.”

Kira-kira gitu kesimpulan rangkuman yang saya buat untuk tugas mata kuliah kajian isu-isu kontemporer. Gaya mengajar dosen ini memang begitu, beliau menugaskan siswa untuk merangkum bab-bab dalam buku. Saya kebagian merangkum bab buku mengenai kekuatan dan kerentanan, dan rangkumannya dapat dilihat disini.

Matkul: Kemiskinan dan Kriminalitas

Sekitar semester kemarin, saya mengontrak mata kuliah tindakan kriminal dan kemiskinan. Sebagai bahan uas (untuk uts bisa dilihat disini),  materinya diambil dari presentasi kelompok dengan tema yang telah ditentukan, berikut tema dan hasil kajiannya.

Kelompok 1, mengenai urbanisasi.

Kelompok 2, mengenai SDA & SDM.

Kelompok 3, mengenai pengemis.

Kelompok 4, mengenai hedonisme.

Kelompok 5, mengenai NII (Negara Islam Serikat).

Kelompok 6, mengenai perdagangan anak.

Kelompok 7, mengenai tawuran.

Kelompok 8, mengenai geng motor.

Bisa dibilang mata kuliah ini termasuk self learning, karena kebetulan dosennya jarang masuk jadi tiap pertemuan tiap kelompok melakukan presentasi dan memberikan laporan ke dosen. Dipikir-pikir, ngapain bayar kuliah ya kalo dosennya jarang melaksanakan kewajibannya?

Evaluasi Pembelajaran

Sebencinya kamu sama ilmu eksak, mau masuk jurusan apapun pas kuliah pasti nemu mata kuliah berbau eksak. Kalo nggak nemu, kamu munafik, ato ketawan suka bolos, ato kamu anak filsafat, soalnya sejauh ini blom pernah nemu anak filsafat ngomongin hal-hal berbau angka.

Kalo untuk anak pendidikan non eksak,siap-siap disiksa sama mata kuliah statistik dan evaluasi pembelajaran. Dan jujur, nilai yang didapat dari mata kuliah ini cuman satu : bikin soal tu hal paling rumit sedunia. Lebih rumit daripada bikin pesawat terbang. Karena pesawat terbang pake rumus, kalo bikin soal  harus liat keadaan siswa, harus liat SK/KD, harus liat mau pake tipe apa, ah pokonya rudet!

Dan pamungkasnya adalah pas penilaiannya.

Mungkin karena saya angkatan pertama dari prodi pend. IPS, kami sekelas bisa dibilang jadi kelinci percobaan kurikulum. “..dan konsekuensinya untuk mata kuliah ini cuman dapet jatah 2 SKS, padahal untuk evaluasi pembelajaran tuh materinya banyak,mulai dari jenis-jenis assessment sampe cara nilai  alternatif assessment,harusnya ni matkul ngambil 3-4 sks..” curhat dosen. Jadilah, untuk materi tata cara penilaian dikebut 2 pertemuan, dan salah satunya tata cara penilaian akhir yang 2 minggu kmaren dikerjain.

Emaaaaakkkkk!!

Saya sendiri heran, saya yang bego matematika jadi ngedadak pinter bikin rumus di excel gara-gara dosennya agak killer soal tugas. Kaya soal untuk penilaian akhir dibawah, beneran, ni rumus bikin sendiri, soalnya kecepatan dosen ceramah ga secepat kecepatan tangan saya yang kidal.

Tentunya setelah belasan kali uji coba

Emang, manusia baru keliatan hebatnya kalo lagi “kejepit”.

Overlag start up

Image

this is what happened when you editing movie with adding lots of separated movie clips. results? overlag on my 2.13Ghz processor and 2GB RAM laptop. first aid? incerease the virtual memory. or you can search for some mod like game booster. also works for non game application, according to a friend.

Video pembelajaran 2.0

“Untuk 2 minggu kedepan, buat media pembelajaran interaktif, mau bentuk audio ato visual ato 2-2nya, yang penting sesuai dengan tema lingkungan.”

Saya manyun. Soalnya kalo bukan tema lingkungan, niatnya mau saya pake video pembelajaran semester lalu, walopun anggota kelompoknya bukan lagi anggota kelompok yang sama. Kebetulan pas pembagian kelompok saya sekelompok sama regina dan indra. Indra udah terkenal kerena hobinya yang bolos kuliah, untuk kegiatan pkm mahacita alias pecinta alam. Yang berarti tugas makin gampang *lega*.

Dan seperti layaknya mahasiswa, dikasih waktu 2 minggu, itu berarti 1 minggu pertama dipake buat leha-leha, dan baru ngerjain pas minggu kedua. Dan setelah berembuk (dan juga adu argumen) kita sepakat meliput situs curug dago, soalnya disitu ada situs peninggalan raja thailand, jadi ada unsur sejarahnya, disamping unsur georafi/lingkungan.

Pengambilan gambar dilakukan seharian pada hari jumat. Dengan saya sebagai pemegang video recorder (alias kameramen), indra sebagai pemegang kamera (alias fotografer), regina sebagai pemegang acara (alias host) bpk. Lili sebagai kuncen (beliau lebih senang disebut sebagai juru jaga) kami menyusuri jalan setapak menuju lokasi prasasti yang terletak disamping curug. Namun sayang, 2 hari sebelumnya, jalanannya rusak karena longsor, jadi peliputan mengenai prasasti didapat dari dokumen yang dipegang oleh bpk. Lili.

(dari kiri)bpk. Lili, saya,dan regina. (indra kebetulan ga bisa ikut karena dia yang memfoto, soalnya ga ada manusia atopun mahluk halus yang bisa diminta tolong buat foto)

Waduh?!

Pas pertama nyampe ke lokasi curug, hal pertama yang saya rekam adalah lingkungan curug yang dah ga layak dibilang lokasi wisata. Lebih tepatnya dibilang lokasi pembuangan sampah. Menurut bpk. Lili, sampah ini berasal dari pasar lembang dan juga pemukiman penduduk yang ada disekitar das yang mengalir ke curug. Baru-baru ini memang sudah ada usaha dari pemerintah untuk “menyelamatkan” lingkungn disekitar curug dengan melakukan pembersihan rutin dan mengadakan kegiatan olahraga air  seperti kukuyaan dan arung jeram untuk menarik wisatawan, yang dapat meningkatkan kesadaran akan pentinganya menjaga keasrian curug dago. Namun dalam pandangan saya, keasrian curug dago tidak akan puling dengan baik bila masih ada penduduk disekitar das yang membuang sampah ke sungai.

Mau piknik dipinggir sungai sekaligus sampah?

Setelah melakukan pengambilan gambar (dengan regina sebagai host dan indra yang sampe pulang ga ada foto mukanya satupun) kami diajak ke plta yang berada 1 km menuju arah selatan. Diperjalanan kami melewati sekolah alam, dan pemandangannya…bener-bener menyegarkan bagi orang yang tinggal dipinggir jalan raya seperti saya.

Kata orang bule namanya breath taking

Atas:PLTA buatan belanda, bawah: PLTA buatan pemerintah

Setelah puas ngobrol dengan petugas plta, perjalanan pulang melewati rute yang berbeda. Rutenya kebetulan melewati kediaman bpk. Lili, dan beliau pulang dahulu untuk mengambil dokumen, sementara kami melanjutkan perjalanan menuju padepokan.

Liat-liat dokumen sambil nunggu pesanan karedok

Di padepokan, kami melakukan wawancara dengan bpk.lili mengenai pengalamannya menjadi juru kunci curug dago, sementara indra memfoto dokumen-dokumen mengenai prasasti.

Sungguh menyenangkan berbincang dengan bpk.lili, beliau kritis mengenai isu-isu lingkungan, ia melihat bahwa bencana alam yang terjadi saat ini merupakan kesalah manusia yang membuang sampah sembarangan, sehingga alam marah. Beliau juga menyadari bahwa mengembalikan keasrian curug dago seperti masa ia muda dulu pasti membutuhkan proses. Ketika para pejabat sedang sibuk dengan urusan pribadi, orang seperti bpk. Lili sibuk dengan urusan menjaga curug dago lebih dari 20 tahun, dan tidak mengeluh dengan amanah yang diberikan.

Karena langit mulai gelap, dan regina mau pulang kampung, observasi kami selesaikan, dan kami mampir ke kost-an agi untuk transfer data.

Setelah 1 minggu didiamkan, 3 jam cari sumber tambahan, 1,5 jam membuat  narasi, dan 2 malam editing, video media pembelajaran akhirnya selesai juga *sujud syukur*

Ini video yang udah jadi, moga-moga berguna ketika praktek mengajar nanti 🙂

Video: media pembelajaran 1.0

Sebenarnya ini tugas semester kemarin, tapi dari sekian tugas-tugas yang diberikan para dosen dengan jahanam (sori agak hiperbol) tugas yang satu ini merupakan tugas paling bagus bagi saya. Proses pembuatannya sekitar 5 jam (belum termasik editing), dengan tangan dena sebagai korbannya. Selamat manikmati.