Pak Nana, antara keterampilan sosial & bahasa Inggris

Drs. Nana Supriatna, alias Ketua Prodi PIPS alias dosen matkul Keterampilan sosial

Ni WPAP dibuat sekitar 1 tahun (!!!) yang lalu atas permintaan <aziez>. Niatnya mau dibikin kaos, cuman ga jadi karena saya males bikin yang lebih bagus.

Eniwey, beliau dosen yang ngasih tugas observasi ke sekolah internasional (baca disini) dan termasuk dosen yang lebih fokus kepada detail. Maksudnya detail disini, beliau lebih sering manugaskan mahasiswa dengan hal-hal yang berhubungan langsung dengan kehidupan, minim kajian teori layaknya dosen kebayakan. Bisa dibilang beliau seperti guru TK yang mengajarkan pendidikan karakter ke mahasiswanya, yang kenyataannya lebih kurang beradab daripada anak TK.

Contohnya adik kelas saya disuruh nongkrong seharian di deket toilet untuk meneliti kelakuan mahasiswa yang keluar masuk toilet. Dan ternyata ditemukan fakta unik, bahwa sebenarnya toilet FPIPS itu bersih karena petugasnya yang rajin, bukan mahasiswanya yang berpartisipasi menjaga kebersihan toilet. Yang dengan kata lain,  kalo nggak ada clening service, toilet FPIPS ga jauh beda ama WC umum Terminal Ledeng.

Hal lain yang sering beliau tekankan adalah meningkatkan kemampuan bahasa inggris, yang beliau implementasikan dengan memberikan tugas menerjemahkan buku-buku sumber ke bahasa indonesia. Kelompok saya kebagian bab 15, mengenai 3 pendekatan dalam berinteraksi (bahasa inggrisnya saya lupa). Dan karena faktor apes bawaan, saya kebagian menerjemahkan.

Mungkin karena faktor saya sedang kasmaran, proses translasi selesai dalam waktu 1 malam, yang selanjutnya diproses oleh rekan sekelompok ke bentuk presentasi dan makalah sementara saya “mengisi bahan bakar”.

Jujur, kegiatan menerjemahkan merupakan hal yang menantang bagi saya, karena bahasa inggris yang biasa saya pakai adalah bahasa non formal dengan grammar sederhana, sedangkan teks yang diberikan merupakan bahasa ilmiah dengan kalimat yang rumit. Feels like been hit with recoil when you try it for the first time *kebawa bule*.

Oia, untuk hasil terjemahannya bisa dilihat disini, ada juga tugas serupa yang diberikan, tapi temanya mengenai pembelajaran IPS, bisa di download disini. Mohon maaf bila hasil terjemahannya kacau. Maklum, masih belajar.

Korupsi?

Kira-kira semboyan para assasin dari game buatan Ubisoft ini merupakan gambaran yang cocok tentang hukum indonesia yang jangan ditanya lagi unsur paradoksnya. Apalagi soal korupsi.

Dari anak TK, sampe DIKTI akan selalu ditemukan kegiatan korupsi. Maklum, walaupun sedang gencarnya mengenai pendidikan karakter, departemen pendidikan merupakan departemen no. 3 terkorup se-indonesia, jadi wajar kalo dari siswa SD sampe guru besar, kegiatan menyontek merupakan hal lumrah. Paradoks utama negri ini.

Tapi apa sih sebenarnya korupsi itu? Karena saya bukan orang jujur (alias suka menyontek juga) saya ingin berbagi sepenggal tulisan yang saya dapat dari berbagai sumber  mengenai definisi, ciri, dan dampak dari kegiatan korupsi. Silahkan jika ingin copas untuk tugas makalah ato presentasi, toh saya juga dapet nyontek :P.

Download disini.

Kekuatan dan Kerentanan

“Kekuatan, apakah memang segalanya? Kata om ariel (bukan angga) tak ada yang abadi, demikian juga kekuatan. Tapi kapan kekuatan itu akan sirna? Salah satu penyebab yang paling ironis adalah ketika kekuatan itu menjadi boomerang bagi yang memilikinya. Contoh nyatanya adalah kekuatan militer as yang menjadi boomerang baginya ketika negara-negara Eropa enggan melibatkan AS dalam negosiasi dengan Iran, sehingga as seakan-akan bekerja sendiri.”

Kira-kira gitu kesimpulan rangkuman yang saya buat untuk tugas mata kuliah kajian isu-isu kontemporer. Gaya mengajar dosen ini memang begitu, beliau menugaskan siswa untuk merangkum bab-bab dalam buku. Saya kebagian merangkum bab buku mengenai kekuatan dan kerentanan, dan rangkumannya dapat dilihat disini.

Matkul: Kemiskinan dan Kriminalitas

Sekitar semester kemarin, saya mengontrak mata kuliah tindakan kriminal dan kemiskinan. Sebagai bahan uas (untuk uts bisa dilihat disini),  materinya diambil dari presentasi kelompok dengan tema yang telah ditentukan, berikut tema dan hasil kajiannya.

Kelompok 1, mengenai urbanisasi.

Kelompok 2, mengenai SDA & SDM.

Kelompok 3, mengenai pengemis.

Kelompok 4, mengenai hedonisme.

Kelompok 5, mengenai NII (Negara Islam Serikat).

Kelompok 6, mengenai perdagangan anak.

Kelompok 7, mengenai tawuran.

Kelompok 8, mengenai geng motor.

Bisa dibilang mata kuliah ini termasuk self learning, karena kebetulan dosennya jarang masuk jadi tiap pertemuan tiap kelompok melakukan presentasi dan memberikan laporan ke dosen. Dipikir-pikir, ngapain bayar kuliah ya kalo dosennya jarang melaksanakan kewajibannya?

Evaluasi Pembelajaran

Sebencinya kamu sama ilmu eksak, mau masuk jurusan apapun pas kuliah pasti nemu mata kuliah berbau eksak. Kalo nggak nemu, kamu munafik, ato ketawan suka bolos, ato kamu anak filsafat, soalnya sejauh ini blom pernah nemu anak filsafat ngomongin hal-hal berbau angka.

Kalo untuk anak pendidikan non eksak,siap-siap disiksa sama mata kuliah statistik dan evaluasi pembelajaran. Dan jujur, nilai yang didapat dari mata kuliah ini cuman satu : bikin soal tu hal paling rumit sedunia. Lebih rumit daripada bikin pesawat terbang. Karena pesawat terbang pake rumus, kalo bikin soal  harus liat keadaan siswa, harus liat SK/KD, harus liat mau pake tipe apa, ah pokonya rudet!

Dan pamungkasnya adalah pas penilaiannya.

Mungkin karena saya angkatan pertama dari prodi pend. IPS, kami sekelas bisa dibilang jadi kelinci percobaan kurikulum. “..dan konsekuensinya untuk mata kuliah ini cuman dapet jatah 2 SKS, padahal untuk evaluasi pembelajaran tuh materinya banyak,mulai dari jenis-jenis assessment sampe cara nilai  alternatif assessment,harusnya ni matkul ngambil 3-4 sks..” curhat dosen. Jadilah, untuk materi tata cara penilaian dikebut 2 pertemuan, dan salah satunya tata cara penilaian akhir yang 2 minggu kmaren dikerjain.

Emaaaaakkkkk!!

Saya sendiri heran, saya yang bego matematika jadi ngedadak pinter bikin rumus di excel gara-gara dosennya agak killer soal tugas. Kaya soal untuk penilaian akhir dibawah, beneran, ni rumus bikin sendiri, soalnya kecepatan dosen ceramah ga secepat kecepatan tangan saya yang kidal.

Tentunya setelah belasan kali uji coba

Emang, manusia baru keliatan hebatnya kalo lagi “kejepit”.